tiba-tiba teringat tentang masa kecilku, rasanya baru kemarin aku menggendong tas punggung menuju TK dibonceng sepeda oleh kakek ku, kakek akan menggunakan topi koboinya,menungguku pulang di depan masjid desa
rasanya baru kemarin aku terlelap dengan memandang wajah nenek ku yang sedang berkisah tentang sebuah negeri antah berantah...tokoh andalannya adalah kedana-kedini, 2 sampai 4 jam cerita kedana kedini dalam berbagai versi yang ia kisahkan, barulah aku bisa tertidur
dulu, aku hanyalah anak kecil dengan kebahagiaan ringan dan sederhana
tawa riang yang memperlihatkan gigi ompongku terdengar tulus apa adanya
pikiranku hanya tentang pergi ke sekolah, menonton film hanoman, dan bermain dengan kakek dan nenek di rumah sambil menunggu bapak-ibu pulang bekerja
saat aku kecil hal yang paling tidak kusuka adalah malam hari, karena aku harus belajar dan mengaji, ibu akan mengajariku dengan keras...
tiap kali belajar aku selalu meminta nenek untuk duduk di sebelahku, agar jika aku salah mengeja huruf atau menjumlahkan...ibu tidak berani marah, karena nenek selalu membelaku
saat menghafal suratan pendek Al-Qur'an, kakek akan datang dan menemaniku....beliau sungguh hafal banyak surat, baik yang panjang ataupun pendek, katanya kakek pernah berguru ke pondok pesantren kyai tebu ireng..aah kurasa beliau hanya bercanda
setelah belajar, aku akan meminta bapak memberiku novel atau komik terbaru, lalu akan kubacakan keras-keras untuk bapak ibu, kakek dan nenekku...masih kuingat jelas bagaimana mereka menatap dan tersenyum kepadaku,--penuh rasa sayang, sungguh bangga bukan main rasanya tiap kali aku bisa membaca satu kata dengan benar di depan mereka
masa kecilku, adalah masa dimana aku menerima banyak kebahagiaan, dan mampu memberi banyak waktuku untuk mereka
kini usiaku 24 tahun dan hidup sungguh berubah dengan cepat
tangan kecilku yang dulu selalu menggenggam permen pemberian nenek, kini terlihat kokoh memegang buku-buku tebal
debaran kegembiraan saat melihat kantong celana kakek yang dipenuhi oleh apel, kini tak lagi berdebar sesederhana itu
pemikiranku lebih kompleks dari sekedar film hanoman atau mendengarkan kisah negeri antah berantah
di usiaku yang ke 24
kuhabiskan waktu dengan berpikir tentang impian dan idealisme tentang hidup
kusibukkan waktuku dengan deretan buku-buku dengan sederet nama filsuf mendunia yang berakhir gila
aku berpikir dan terus berpikir, aku bergerak dan terus bergerak.....aku , aku, aku,
aku yang sibuk, aku yang produktif, aku yang aktif , aku yang dinamis... aku... aku... aku..
aku adalah pusat duniaku
aku berusaha keras untuk segala hal dalam hidupku, tanpa satu pun ingin kulewatkan
sampai kemarin,
saat ku genggam tangan kakek ku yang gemetar menuju rumah sakit
tatapan matanya yang redup dan ketakutan
tubuhnya yang mengecil
pikirannya yang melemah...
yang dengan lemah berkata, untung kamu libur li..
beliau yang menghabiskan banyak waktu saat aku kecil , dan kini aku hanya mampu memberikannya waktu hanya saat aku libur? ironis
sampai kemarin,
saat aku tunggui nenek ku yang terbaring lemah
yang masih mencoba tersenyum melihatku datang
yang memintaku agar menjaga dirinya
dengan suara lemah tanpa daya
nenek yang menjagaku seperti ibuku, mengapa aku tak sanggup menjaganya seperti beliau menjagaku sewaktu aku kecil?
diriku...yang selalu tentangku,
dimanakah kau kehilangan hati yang sanggup mengasihi keluarga seperti masa kecilmu?
dimanakah kebahagiaan sederhana tentang totalitas bersama keluarga?
dimana kau, saat keluarga merindukanmu?
diriku..yang selalu tentangku
apa guna kau membaca beratus halaman tentang humanisme,
menghabiskan berpuluh jam untuk mengkonsepkan tentang idealisme kehidupan
jika kau kehilangan makna di depan manusia yang diberkati hati dengan kasih sayang, yang kau sebut keluarga?
diriku...yang selalu tentangku
adakah engkau hanya sebentuk pemikiran kosong yang beromong kosong?
rasanya baru kemarin aku terlelap dengan memandang wajah nenek ku yang sedang berkisah tentang sebuah negeri antah berantah...tokoh andalannya adalah kedana-kedini, 2 sampai 4 jam cerita kedana kedini dalam berbagai versi yang ia kisahkan, barulah aku bisa tertidur
dulu, aku hanyalah anak kecil dengan kebahagiaan ringan dan sederhana
tawa riang yang memperlihatkan gigi ompongku terdengar tulus apa adanya
pikiranku hanya tentang pergi ke sekolah, menonton film hanoman, dan bermain dengan kakek dan nenek di rumah sambil menunggu bapak-ibu pulang bekerja
saat aku kecil hal yang paling tidak kusuka adalah malam hari, karena aku harus belajar dan mengaji, ibu akan mengajariku dengan keras...
tiap kali belajar aku selalu meminta nenek untuk duduk di sebelahku, agar jika aku salah mengeja huruf atau menjumlahkan...ibu tidak berani marah, karena nenek selalu membelaku
saat menghafal suratan pendek Al-Qur'an, kakek akan datang dan menemaniku....beliau sungguh hafal banyak surat, baik yang panjang ataupun pendek, katanya kakek pernah berguru ke pondok pesantren kyai tebu ireng..aah kurasa beliau hanya bercanda
setelah belajar, aku akan meminta bapak memberiku novel atau komik terbaru, lalu akan kubacakan keras-keras untuk bapak ibu, kakek dan nenekku...masih kuingat jelas bagaimana mereka menatap dan tersenyum kepadaku,--penuh rasa sayang, sungguh bangga bukan main rasanya tiap kali aku bisa membaca satu kata dengan benar di depan mereka
masa kecilku, adalah masa dimana aku menerima banyak kebahagiaan, dan mampu memberi banyak waktuku untuk mereka
kini usiaku 24 tahun dan hidup sungguh berubah dengan cepat
tangan kecilku yang dulu selalu menggenggam permen pemberian nenek, kini terlihat kokoh memegang buku-buku tebal
debaran kegembiraan saat melihat kantong celana kakek yang dipenuhi oleh apel, kini tak lagi berdebar sesederhana itu
pemikiranku lebih kompleks dari sekedar film hanoman atau mendengarkan kisah negeri antah berantah
di usiaku yang ke 24
kuhabiskan waktu dengan berpikir tentang impian dan idealisme tentang hidup
kusibukkan waktuku dengan deretan buku-buku dengan sederet nama filsuf mendunia yang berakhir gila
aku berpikir dan terus berpikir, aku bergerak dan terus bergerak.....aku , aku, aku,
aku yang sibuk, aku yang produktif, aku yang aktif , aku yang dinamis... aku... aku... aku..
aku adalah pusat duniaku
aku berusaha keras untuk segala hal dalam hidupku, tanpa satu pun ingin kulewatkan
sampai kemarin,
saat ku genggam tangan kakek ku yang gemetar menuju rumah sakit
tatapan matanya yang redup dan ketakutan
tubuhnya yang mengecil
pikirannya yang melemah...
yang dengan lemah berkata, untung kamu libur li..
beliau yang menghabiskan banyak waktu saat aku kecil , dan kini aku hanya mampu memberikannya waktu hanya saat aku libur? ironis
sampai kemarin,
saat aku tunggui nenek ku yang terbaring lemah
yang masih mencoba tersenyum melihatku datang
yang memintaku agar menjaga dirinya
dengan suara lemah tanpa daya
nenek yang menjagaku seperti ibuku, mengapa aku tak sanggup menjaganya seperti beliau menjagaku sewaktu aku kecil?
diriku...yang selalu tentangku,
dimanakah kau kehilangan hati yang sanggup mengasihi keluarga seperti masa kecilmu?
dimanakah kebahagiaan sederhana tentang totalitas bersama keluarga?
dimana kau, saat keluarga merindukanmu?
diriku..yang selalu tentangku
apa guna kau membaca beratus halaman tentang humanisme,
menghabiskan berpuluh jam untuk mengkonsepkan tentang idealisme kehidupan
jika kau kehilangan makna di depan manusia yang diberkati hati dengan kasih sayang, yang kau sebut keluarga?
diriku...yang selalu tentangku
adakah engkau hanya sebentuk pemikiran kosong yang beromong kosong?